Investasi di bidang pertambangan memerlukan perbaikan peraturan serta stimulan supaya pekerjaan eksplorasi serta eksploitasi selalu berjalan, memberi peran pada negara. Peraturan sekarang ini kurang menarik minat pemodal. Di banding negara lainnya, investasi pertambangan di Indonesia kurang menarik. 

Demikian pandangan yang mengemuka dalam diskusi bertopik "Mining for Life" yang diselenggarakan di Museum Geologi Bandung, Sabtu (19/1). Diskusi itu diselenggarakan oleh Indonesian Mining Association (IMA), dipandu wartawan senior Tommy Suryopratomo dengan tampilkan Ketua Umum Ikatan Pakar Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru Prihatmoko, Dirut PT Inalum Budi Sadikin, Sekretaris IMA yang pun Presdir PT Freeport Indonesia Tony Wenas, serta Wakil Ketua Umum Indonesian Mining Institute Hendra Sinadia. 

Menjadi negara yang kaya sumber daya mineral, kata Sukmandaru, Indonesia mesti dapat hidup sejahtera dari bidang kekayaan alam yang dipunyai. Oleh karenanya, beberapa masalah eksplorasi serta eksploitasi mineral serta batubara (minerba) mesti ditangani. Tidak hanya persepsi publik yang kurang baik mengenai minerba, peraturan butuh diperbaiki supaya minerba indonesia yang berlimpah memberi kemaslahatan pada negara. 

Minna malah banyak di negeri dengan banyak gunung api seperti indonesia. Indonesia diketahui menjadi negeri yang banyak alami musibah alam. 
Beberapa pembicara mengutarakan opini seirama jika iklim investasi di bagian minerba sekarang ini kurang menarik minat investor. Waktu konsesi yang cuma 20 tahun dengan perpanjangan 2 x 10 tahun tidak menarik buat investor mengingat investasi minerba ialah investasi periode panjang. 

Presdir PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makassau pada komunitas yang sang mamajelaskan, di negara lainnya, izin minerba lebih dari 100 tahun. Kebijaksanaan ini sangat mungkin lahirnya perusahaan besar bertaraf global yang hidup diatas 200 tahun. "Tengah di Indonesia, perusahaan tambang cuma dibuat untuk 40 tahun, "tuturnya. 

Pener taun negara bukan pajak (PNPB) alami pasang-surut dalam lima tahun paling akhir. Pada tahun 2018, PNPB dari minerba Rp 46, 1 triliun atau 45% diatas tujuan. PNBP dari minerba sempat turun tajam saat dua tahun. Sesudah sampai Rp 35, 4 triliun 2014, pada tahun 2015 turun ke Rp 29,6 triliun serta 2016 sebesar Rp 27,2 triliun. Tahun 2019 ini, PNBP minerba direncanakan Rp 40 triliun atau naik 25%. 

Perusahaan minerba, kata Hendra Sinadia, dapat memberi peran semakin besar pada negara seandainya ada stimulan serta kejelasan peraturan. Stimulan begitu penting untuk tingkatkan jumlahnya investor minerba serta menggerakkan perusahaan yang telah beroperasi untuk ekspansi. "Perusahaan tambang sangat cepat menarik foreign direct investment," tuturnya . 

Bila cuma mengekspor bahan mentah, surplus neraca tambang begitu kecil, bahkan juga minus, sebab nilai beberapa produk tambang yang di, Hilirisasi, -import tambah lebih besar dari nilai bahan mentah yang di-export. 
Santurah jadi aluminium, nilai lebih dari bouksit bertambah belasan kali. Aluminium berguna menjadi penguantar listrik serta panas yang baik meskipun tidak sebagus tembaga. Tengah nikel bagus untuk perlengkapan makanan, hp, perlengkapan medis, transportasi, bangunan, dan pembangkit listrik. 

Pen tahun 2018, defisit neraca perdagangan sampai US $ 8, 5 miliar, paling besar dalam riwayat Indonesia. Dengan hilirisasi, neraca perdagangan Indonesia akan kembali surplus serta selalu jadi membesar. 

Sait harga batubara turun, kata Budi, perusahaan tetap akan mencapai laba bila perusahaan mempunyai pembangkit listrik tenaga batubara. Hilirisasi berguna juga untuk mengawasi keadaan keuangan serta tingkatkan kapasitas perusahaan. 

Akan tetapi, kata Tony Wenas, tidak semua perusahaan minerba mempunyai karakter yang sama. Perusahaan tembaga seperti Freeport Indonesia malah cukup sudah maksimal dengan mengekspor konsentrat, sebab proses hilirisasi untuk membuahkan konsentrat telah sampai 93% serta harga nya telah merujuk pada London Stok Exchange. Benar-benar juga demikian, pihaknya masih komit bangun step ke-2. 

Untuk tingkatkan export serta mengawasi kapasitas perusahaan minerba, kebijaksanaan pemerintah tentang export butuh lebih memberi kepastian. Larangan export ore serta konsentrat janganlah tidak diduga. 

Pulihkan Citra, Pilih topic "Mining for Life", IMA punya niat memulihkan citra pertambangan yang sampai kini jelek di mata publik. Usaha pertambangan acap diasumsikan dengan perusakan lingkungan serta pengerukan kekayaan alam tiada nilai lebih yang mencukupi untuk negara serta penduduk. Walau sebenarnya, kata Dari pagi sampai malam, minimum 90% kehidupan penduduk bersentuhan serta memakai produk pertambangan. 

Manusia moderen takkan dapat hidup listrik, smartphone, bermacam mesin, serta kendaraan untuk transportasi. Peradaban manusia yang masuk Industry 4.0 pun bisa saja oleh produk pertambangan. 

Ido ajak publik untuk mengapresiasi semua pihak yang ikut serta dalam usaha pertambangan, baik pemodal, manajemen, ataupun pekerja. Mereka semua ialah pihak yang berjasa dalam tingkatkan peradaban manusia. Akan tetapi, disadari beberapa pebisnis pertambangan harus juga menyatu padu mengawasi lingkungan hidup, memberi dukungan ide pembangunan berkepanjangan, serta memberikan keyakinan publik jika produk pertambangan telah jadi keperluan keseharian umat manusia. 
Untuk memulihkan citra usaha pertambangan, demikian Tony, pemerintah butuh tegas serta berkelanjutan dalam mengaplikasikan peraturan. Perusahaan yang tidak menghiraukan ketentuan mengenai lingkungan tidak bisa dilewatkan. Ide pertambangan berkepanjangan butuh dipantau ketat oleh pemerintah. 

Menurut Tony, yang sangat banyak mengakibatkan kerusakan ialah perusahaan taraf kecil dengan tempat konsesi dibawah 100 hektare. Dengan luas tempat konsesi yang sempit, perusahaan tambang susah bangun infrastruktur yang diisyaratkan. Tempat sempit semakin banyak sebab ada pelaku yang memperdagangkan konsesi dengan memecah satu lokasi konsesi seluas 1.000 ha jadi 20, hingga satu konsesi cuma 50 ha. 

"Karena pelanggaran beberapa perusahaan, dunia pertambangan terserang citra negatif," tutur Tony. Ia meyakini, dengan tempat konsesi yang sempit, lingkungan lokasi pertambangan susah diurus dengan baik. Ia pun menyoroti junior miners yang sampai kini kuasai lokasi pertambangan serta keadaan itu tidak baik buat pemulihan citra pertambangan.